Tampilkan postingan dengan label ironi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ironi. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Gemetar

Let's Get Lost by Hengki Koentjoro
Tidakkah kau mulai gemetar?
melihat hidupmu tak terkontrol berputar
menyapu dunia hingga hilang latar
Mungkin kau tak gentar
tapi kau tak punya waktu bahkan sebentar

Tidakkah kau mulai gusar?
melihat dirimu yang bukan makin berpendar,
tetapi makin memudar
hingga gelap yang menutupi kian membesar

Tidakkah takutmu makin jelas terpancar?
saat ingat dirimu tak mungkin lagi keluar
bahkan sekuat apapun teriakanmu berkoar,
sekitar tak ada yang mendengar.

Dan di sana tak akan kaulihat sinar,
seberapapun kau membuka matamu lebar
karena semua gelap sudah rata tersebar
dan segenap nyawamu sudah penuh belukar,
kegelapan yang mengakar

: yang merenggut seutuhnya dirimu, tak berkisar,
pun tak berdasar.

Sabtu, 30 April 2011

To Be Different

Apa salahnya menjadi berbeda?


Kau, ya, kau. Sekali lagi aku bertanya padamu. Haruskah kalian menjadi sama, untuk bisa satu?
Betulkah kalian tidak dianggap, bila tidak sama dengan yang lain?
Kenapa kalian malah membuat KOMUNITAS menjadi POPULASI?
Menjadi kelompok sendiri, dengan cerita yang sama, yang begitu stagnan dan perlahan berlari menuju kebosanan.

Haruskah kalian melepaskan yang lain? melupakan yang lain?
Hanya demi mendapatkan suasana yang sama? 
Yang mungkin di mata kalian cerah, tapi di mataku begitu sempit dan terasingkan.

Ya, kalian sebenarnya diasingkan yang lain, bukannya menjadi mayoritas, yang menguasai yang lainnya.
kalian perlahan ditinggalkan yang lain, karena perlakuan kalian terhadap mereka.  
Ditinggalkan bersama seluruh harta kalian yang begitu berharga, yang perlahan pula sirna ditelan waktu
tak berbekas 

Bukannya perbedaan, yang membuat kita satu? 
Yang membuat hidup kita menjadi lebih kaya, lebih berwarna, dan lebih berarti?
Sehingga perdamaian dunia begitu mudah diwujudkan,
tanpa adanya orang yang memprotes perbedaan agama, ras, suku bangsa, warna kulit, dan perbedaan persepsi maupun perspektif.

Apalagi yang terjadi pada kalian semua. 
Kalian menutup mata dan telinga, di dalam mulut besar yang tak berhenti berkoar-koar hingga berbusa.
Kalian menutup diri, mengaku sebagai minoritas yang diasingkan hanya karena perbedaan bahan pembicaraan.
Tidak bisakah kita berbaur? berosmosis bersama yang lainnya?
Saling berbagi, mendengar, tertawa bersama-sama
dalam kisah yang begitu beragam, dan memperkaya wawasan kita? memperkaya hati kita? 

Hilangkan perbedaan
Jadi diri sendiri, yang apa adanya
dengan gaya, dan selera kita sendiri 
tanpa harus memaksakan diri untuk menjadi sama,
untuk menjadi eksis di antara yang lainnya

Hargai mereka yang berbeda
dengan saling berbagi kebersamaan, dan kekuatan 
di dalam ruangan luas berselubung energi ini. 
untuk menjadi diri kita yang seutuhnya

UNTUK MENJADI SATU! 


 “Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun
Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa
bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. kita hendak
mendirikan suatu Negara ‘semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan
buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya,
tetapi ‘semua buat semua’.”
 
“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya.
Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam
buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat
Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia
buat Indonesia, semua buat semua!”
 
“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan
milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu
golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai
Merauke!”
  
 “Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan
kebangsaan Sumatra, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau
lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar
satu nationale staat”
 
—Soekarno 
 

Jumat, 25 Maret 2011

Balada Lapak DVD

Kita bisa memaklumi, mbak-mbak yang jualan di lapak DVD nggak tau film. Jelas sih, mereka tau Avatar, Harpot, Betmen, King's Speech, dkk macem itu. Sayangnya, mereka nggak tau film-film macem Babel, Seven, apalagi Shawshank Redemption. Jelas aja mereka nggak tau Dark Knight, tapi taunya betmen. Jadi, kalau mau dapetin film yang diinginkan, sebaiknya cari sendiri diantara jejeran DVD" bajakan tersebut dengan sabar dan telaten.

Teteup, harap maklum.

Jadi ngakak inget pertama kali ke lapak :

Mbak-Mbak Lapak DVD (MMLD): Mbak, masang behel kayak gitu berapaan ya mbak?
Me (lagi asik ngobrak-abrik deretan DVD, langsung ngelirik siapa yang nanya. SHOCK. Giginya MMLD (maaf) agak maju): Emm... Waktu itu aku masang sih 3,5 juta.
MMLD (pasang muka polos) : Ooh.. masang di mana itu mbak?
Me *gue suka pertanyaan ini* : Di Puskesmas Depok sana, deket Ring Road. Tapi sekarang dokternya sih udah pindah gitu, nggak disitu lagi. Dia buka klinik sendiri.
Mbak : ooh... gitu ya mbak. Waktu itu saya juga nanya di FKG UGM harganya juga 3,5 juta. Masih sembari ngobrak-abrik isi lapak, emm... aku nggak berani jawab. Pengen banget bilang, "Mbak, yang di FKG UGM itu, 3,5 juta itu yang bikin Mahasiswanya yang masih pada belajar. Kalo di puskesmas dulu itu, 3,5 juta udah sama dokter spesialis. Ntar kalo gigi mbak tambah 'kabur' gimana?"

Nggak deh nggak. Jahatnya diriku.

Ini kali kedua ke lapak DVD. Beda tempat. Dan syukurlah mbaknya lebih ayu dari yang sebelumnya.

Me (lagi ngebet banget liat Babel) : Mbak, Babel ada? (aku sadar dan langsung kepikir, "pertanyaan bodoh, pertanyaan bodoh. Ngapain kamu nanya kayak gitu??")
MMLD : Apa mbak?
Me : Babel. B-A-B-E-L (Bener kan? itu tadi pertanyaan yang bego banget. Kenapa terlintas olehku untuk bertanya tentang film semacam itu? bego)
MMLD (masih menggunakan tampang bingung) : Apa mbak?
Me (gilak. capek bener gue. Menghela napas sejenak.) : B-A-B-E-L. Brad Pitt! Brad Pitt!
MMLD (nyari-nyari) : Nggak ada mbak.
Me (Yeah, fine. Let me see it myself. Oh, benar. Nihil.) : oh, ya udah deh (lanjut nyari)

Dan siang tadi, dari sekolah abis uprak, nggak bisa langsung ke lapak. Soalnya udah tempatnya di kanan jalan, sulit parkir mobil (Mama jemput pake mobil), dan pasti aku lama milih-milihnya (karena sudah tau mbaknya nggak akan ngarti apa yang aku omongin). Jadi, daripada denger mama mencak-mencak, diputuskan untuk pergi naik motor dianter si mbak yang bantu-bantu mama di rumah. TKP di lapak yang pertama.

Me : Mbak, Batman ada? (udah mikir, "Ah, lo pasti tau ini film apaan, kan?")
(Mbaknya langsung nyari di bagian film action sama superhero-superheroan. Lamaa pisan. Sementara aku dengan sigapnya langsung ngambil Hereafter, Jerry Maguire, 127 Hours, sama Seven)
Me : Mbak, coba yang ini mbak. (nyodorin ketiga-tiganya)

Satu persatu film disetel, mulai dari
--> Hereafter. Beuh, yang ini subtitle bahasa indonesianya ancur banget, diartiin per kata kali ya. Tapi tak apalah, daripada nyewa juga si Mumbul ngopi dari DVD. Sami mawon. minimal ada subtitle inggrisnya dan gambarnya udah DVDRip. Ambil!
--> Jerry Maguire. Seingetku waktu pertama kali ke lapak nyobain film ini, subtitlenya Malaysia, China, Jepang, dan aku nggak yakin inggris ada. Tapi karena tumben sekarang banyak stok, kuambil saja. Waktu dicoba, subtitlenya ada pilihan Indonesianya. Ambil!
-->127 Hours. Subtitle-nya adanya Malaysia, China, dkk. Plis, jangan Malaysia. Mending inggris daripada Malaysia, apalagi buat film yang jarang ada dialog kayak film ini.  Si Mbak fast-forward-in biar aku puas liat gambarnya. Yang kucari subtitle, sebenarnya. Udah sampe chapter berapa dicepetin, suara orang ngomong nggak muncul-muncul. Aku cuma bisa menghela napas. Ayolah mbak, untuk 127 Hours, dialog itu adanya di awal sama akhir film (Ya, saya udah nonton) yang di tengah mah cuma ngigau-ngigau-dehidrasi Aron Ralstonnnya doang.

Me (dengan gaya yang cool, bukan sok cool) : Mbak, coba deh dimundurin.
MMLD : Gimana mbak?
Me : Mundurin. Dari awal. Saya mau liat subtitlenya.
(MMLD rewind filmnya dari awal. Dan ternyata subtitlenya Malaysia. Nggak jadi beli)

Aku mulai nyari lagi. Kukira si Mbak udah nemu Betmen,
MMLD : Yang ini bukan, Mbak?

*gue paling suka bagian ini* Dan ternyata si Mbak Lapak memberi saya BATMAN 2 1/2. BETMEN DUA SETENGAH *Yihaaa!!*. Oh, Mbak lapak. Itu lucu sekali. Sayang aku tak berani ngakak di depan wajahmu. Dan aku udah males nyari Dark Knight. Seven ambil saja!

Sampe rumah liat Jerry Maguire, langsung ngerasa janggal dengan subtitle yang (ngakunya) Indonesia. Rada ancur gitu tata bahasanya. Yes, Sir. Shit Happens. Yang saya dapatkan adalah Jerry Maguire bersubtitle MALAYSIA.

Oh, Mbak lapak. Itu lucu sekali.

Semoga saat ini bisa beruntung liat Hereafter. Good luck for me.

Teteup, teman-teman. pesan moral yang kalian dapatkan dari cerita ini adalah :
1. Harap memaklumi Mbak-mbak lapak DVD. Mereka beda sama mas-mas rental film (di tempatku ngerental) yang tau banget soal film.
2. Jangan melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh, apalagi yang bisa merendahkan si mbaknya.
3. Tetap sabar dan telaten dalam menghadapi segala situasi. Boleh lah, hela napas sejenak.

Rabu, 02 Februari 2011

Jauh Sekali

Someday on a planet called Earth...

Ms. X: siang Mbak Chika... apa kabar???
Me: siang Ms. X, baik baik. ada apa, kok tumben dateng ke sini?
Ms. X: aku mau tanya-tanya soal blog mu boleh kan, untuk rubrik "ORANG GILA" di majalah *peep peep peep*
Me: asal nantinya aku bisa terkenal, boleh deh *terkenal sebagai orang gila?*

Ms.X: (nyiapin notes, pulpen, dan recorder) oke, mbak. aku mau tanya nih. kan blog mbak sekarang udah terkenal banget nih, boleh tau nggak sih udah ada berapa followersnya?
Me: hoho.. bisa aja deh kamu dek. jadi malu. sejauh ini sih... TIGA. *3 orang yang malang*
Ms.X: whoaa... that's amazing. gila keren banget, blog ku aja followers nya cuma 457, kok mbak bisa 3 followers gitu sih?! (mata berbinar)
Me: itu nggak gampang, sebenarnya. banyak jatuh bangun yang kuhadapi selama ini. (berkaca-kaca)
Ms.X: aduh, nggak usah berkaca-kaca gitu deh, mbak, aku jadi ikutan nangis kan. hiks hiks (sesenggukan). jatuh bangun gimana sih, mbak?
Me: iya, dari semua postinganku, yang ngasih komentar cuma 1 awalnya, terus jadi 7 paling banyak. *yang komen juga orang yang sama*
Ms.X: waw... aku aja satu postingan cuma dapet paling banyak 120 komen, tiap menit adaa aja komennya, jadi capek. kalo mbak gitu kan enak, komennya dikit, nggak ribet ngurusnya. emang apa sih yang bikin mbak termotivasi buat bikin blog?
Me: actually... nggak tau. entah kenapa tanganku udah bergerak sendiri dan jadilah blog ini. mungkin semacam gangguan syaraf, soalnya sampe sekarang tanganku nggak brenti getar kayak tangannya Hitler. tapi syukurlah tangan ini yang membawa berkah sampai sejauh ini.
Ms.X: keren banget, gara-gara gangguan syaraf, hingga kini followers blognya mbak Chika ada 3?? amazing bangget deh *dobel g* kalo boleh tau nih, pernah ganti nama website nggak sih, selma ini?
Me: kalo itu sih jelas pernah. soalnya aku nggak pernah suka sama nama bikinanku. dulu cuma farizkarubiana, tapi jelek, trus diganti agirlwholovescamera, tapi susah diapalin. trus ganti jadi chikafortheworld, tapi kayak orang alay dan kayak hero gitu namanya, ya udah deh, namanya kuganti jadi chikavstheworld, biar ada 'villain-touch'-nya. mungkin kapan-kapan ganti lagi. *pertanda plin-plan*
Ms.X: waaw... aku aja nggak pernah ganti, biar orang lain gampang nge-search blogku. pantesan followersnya cuma 3. harus dijadiin contoh nih.
Me: contoh? ya ampun, dek, kayak apa aja blog-ku ini. hohohoho
Ms.X: awalnya, di pikiran mbak nih, ya. awalnya mau diisi apa sih, blog ini?
Me: awalnya sih mau ngikutin Raditya Dika gitu, banyolan-banyolan dst. tapi kok kayaknya blog-ku ini jadi garing banget gitu. ya udah deh, kuisi dengan yang beginian. kalo orang ngomongin fashion, ngomongin film, ngomongin keseharian dia *who cares? like you're a president or something?*
Ms.X: pantesan blognya mbak nggak laku ya. bener juga tuh. *jitak aja ni* yayaya... makasih ya mbak ya, udah jam segini nih, udah jadwalnya aku balesin komen-komen yang masuk ke blog. minggu depan majalahnya aku kasih ke mbaknya deh, biar mbak sendiri yang liat. makasih ya mbak ya (tersenyum manis)
Me: oke oke. makasih juga ya dek (tersenyum, tapi mungkin lebih mirip orang nangis abis nelen batang pohon)
Ms.X: itu foto apaan, mbak? lampu? yang gituan ngapain difoto mbak, aneh-aneh aja deh
Me: ehehe (di lubuk hati yang nggak begitu dalam: @#$$%^%&*+>=<)


Seminggu kemudian...

Ms.X: nih mbak majalahnyaa, tak tunjukin ya yang mana yang ada mbaknya
Me: (sumringah)
Ms.X: (berbinar-binar) niihh!!
Me: ...
Ms.X: kok diem aja? keren nggak nih?
Me: keren...bangget...ehe...

--THE END--
oke, saya ngaku. dari kertas majalah seukuran buku tulis panjang, rubrik ORANG GILA dimuat 1 lembar penuh dan berhadapan, dengan tulisan judul "Mbak Chika, orang gila dengan 3 followers dan sejuta lampu". oke, aku bakal terkenal banget nih.

how pathetic (=___=")


Sabtu, 29 Januari 2011

No Me Importa

"Siapa peduli dengan hal macam itu?"
Aku, aku peduli dengan hal yang kau anggap begitu tidak penting.

"Siapa yang tidak peduli dan tidak suka dengan hal itu?"
Aku, aku samasekali tidak peduli dengan hal yang kau anggap begitu penting untuk diketahui itu. Toh itu tidak memberi keuntungan apapun bagiku.

Jangan mengatakan apapun padaku kalau kau tak ingin aku mengetahuinya. Aku tidak akan peduli, dan aku tidak akan mengejarnya untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

Baik, aku tidak akan bertanya bila jawabanmu itu selalu,"tidak apa-apa." Itu jawaban yang tidak kuinginkan, sebenarnya. Bukankah sudah pernah kukatakan kalau aku tidak mudah dibohongi? Bagaimana mungkin kau berkata tidak ada apa-apa kalau kau bercerita dengan begitu hebohnya? Aku juga sudah pernah bilang kalau kau harus mencari frase yang tepat untuk dapat membohongiku, kan?

Tenang, aku tidak akan marah padamu.

Minggu, 23 Januari 2011

You, and you (or maybe another side of you?)

tidak perlulah kau merasa pintar, kalau kau ternyata hanya sekedar sok tahu
tidak perlulah kau merasa bodoh, kalau sebenarnya kau punya potensi yang tak pernah kaubayangkan sebelumnya

selalu ingat, tak ada yang tak mungkin terjadi. Jadi kau tak perlu begitu (terlihat) begitu cerdasnya bicara, atau tak perlulah kau menyerah dengan begitu mudahnya.

Selasa, 18 Januari 2011

That's the Point!

A: "Yah, yang penting lulus. Amiiinn..."

B: "Kamu sekolah 3 taun mau dapet lulus doang? mau jadi apa kamu nanti?"

...

A: "Sing penting lulus. Amiinn..."

B: "Eh, sekarang itu syarat kelulusan udah dibikin gampang. masa' kamu maunya lulus doang? yang kamu pikirin tuh nilai kamu nanti, SMA kamu nanti. kalo lulus tapi masuk SMA jelek, kamu ngasih apa itu namanya ke orangtua kamu? Kamu kasih MALU setelah mereka udah ngasih apapun yang kamu minta?"

---

A: "Yang penting lulus. Amiiinn..."

B: "Itu doang? Cuma kata 'LULUS' doang yang bisa kamu kasih buat orangtuamu? Kenapa nggak nyoba buat ngasih yang lebih baik, atau lebih bagus lagi kalo kamu ngasih jauh lebih bagus daripada yang dibayangkan orangtuamu?"


+++

A: "Pokoknya nilaiku harus bagus semua!! Amiiinn Ya Allah..."

B: "That's the point, friend!"

BUT, WE HAVE ANOTHER PROBLEM NOW. Bukannya lebih mudah, syarat kelulusan malah menjadi kian sulit. Dan akhirnya yaa...

A: "Yang penting lulus. Amiinnn Ya Allah..."

B: "Iyaa.. yang penting lulus! lulus aja udah keren banget! Amiinn!"

Sabtu, 27 November 2010

Mengingat Ibu

Suatu hari...

A: "Wah, hapemu baru yaa?? Hape qwerty lagi! Keren banget!,"

B: "Makasih... kan lagi tren sekarang hape beginian."

A: "Iya ya. Hapeku masih begini-begini aja. Males juga sih mau ganti,"

B: "Mbok ya ganti. Hapemu bentuknya udah kayak gitu. Masa' ganti hape malah males sih?"

A: "Iya, males. Nggak ada uang pula."

B: "Ya minta lah, sama ibumu. Kayak orang miskin aja bilang nggak ada duit."

A: "Bukannya nggak mau juga ganti hape. Ini hape meskipun udah lecet tetep bisa dipake kok. Bukannya takut minta, tapi aku belom bisa ngasih apa-apa buat Ibu."

B: "..."

Hari lainnya...

A: "Kok pada punya gelang kayak gitu sih? aku jadi pengen. Berapa harganya?"

B: "Oh, ini. Di Mall banyak. Rp20.000,00 waktu aku beli."

A: "Ah?! yang bener? masa' gelang beginian doang harganya 20 rebu??"

B: "Eh, ini masih tergolong murah tau, Si C aja belinya 50 rebuan satu,"

A: "Beuh... pingsan aku ngeluarin 50 rebu buat beli begituan. Imitasi palingan juga 5 rebu,"

B: "Tapi kan, kerenan yang asli laah..."

A: "Tapi kalo aku udah make yang imitasi, nggak akan ada bedanya sama punyamu. hahaha..."

B: "Nggak lah, jelas masih kinclongan punyaku. Yang begini jangan disamain sama yang imitasi,"

A: "Nggak jadi beli aah..."

B: "Ya beli yang imitasi aja kalo emang maunya yang itu,"

A: "Nggak jadi. minatku beli itu jadi ilang."

B: "Lah? Kenapa?"

A: "Itu paling cuma kepake berapa minggu, udah dilepas gara-gara udah nggak ngetren. Ibu bakal bilang apa sama aku kalo kayak gitu. Bisa berabe ntar."

B: "..."

Hari-hari berikutnya

A: "Wah, barang-barangmu ngikutin tren semua ya? Dulu BB, gelang antik, sekarang kemana-mana udah pake celana pendek aja mamerin paha mulus. hehehe..."

B: "Enak aja bilang aku mamerin paha mulus! ini tren gaya hidup, tau! biar gaul! daripada kamu, pakean T-Shirt mulu. Bosen tau, orang ngeliat kamu pake baju kayak gitu. Siapa cowok yang mau sama kamu kalo kayak gitu?"

A: "Hehe.. maap..maap. Kalo jodoh mah, udah ada yang ngatur. Aku maunya kan, cowok itu nggak liat fisiknya, tapi inner beauty nya. Emang gaul kudu begitu ya?"

B: "Biarin. Keren tauk!"

A: "Iye maap... nggak usah cemberut gitu dong. Kalo kamu belanja mikir gaul kan? kalo aku nggak."

B: "Iyalah. Penampilan nomer satu! terus mikirin apa dong? budget?"

A: "Nggak. Kalo aku mau beli sesuatu, yang aku pikirin pertama tu, Ibu. Aku nggak tau reaksinya kalau aku beli ini-itu. Takutnya aku yang rugi bandar. Hehehe."

B: "..."

Jumat, 20 Agustus 2010

A untuk Alam

Alam itu luas. Rumah sendiri saja luas, bayangkan kalau alam ini dianugerahkan olehNya hanya untuk kita dan semua makhluk hidup di dunia. Alam kalau diumpamakan sama seperti kita, punya tanggal lahir (meski tidak ada yang tahu pasti kapan. Ialah Yang Maha Tahu), punya bentuk sendiri, punya sejarah sendiri, dan punya perasaan yang berubah-ubah dengan cara penyampaian yang berbeda. Begitulah, harus dipelajari apa isinya, apa yang diinginkan, dan apa saja aturan yang dimilikinya.
Setelah 4 milyar tahun, jadilah alam dengan keadaan yang kian mengenaskan. Apa yang telah kita perbuat? Kita menyiksanya bagai anak haram dalam sinetron. Kita selalu ingat akan uang, bisnis, kekuasaan. Kita tak pernah mengingat apa yang telah disediakan alam untuk kita. Tempat tinggal dengan kondisi alam yang berbeda-beda sesuai keinginan, sumber daya alam yang begitu melimpah, dan perlindungan kuat untuk mencegah setitik benda pun dari luar melukai kita. Tapi lihat perbuatan kita. Kini kita merusak semua yang dimilikinya. Tanah-tanah subur itu, Hutan-hutan hujan dan ikan-ikan itu, lapisan ozon itu. Semua kita jadikan rumah. Kita membeli banyak rumah, kita punya banyak cabang hotel, kita punya segunung mall. Hanya untuk uang yang tidak abadi.
Satu bangunan bisa merusak alam. Butuh lahan dengan menggilas sawah, butuh kayu untuk pondasi dengan menebang hutan, butuh deretan truk untuk membawa bahan-bahan bangunan (dan itu menghasilkan CO2), butuh air untuk para tukang, butuh listrik untuk menyalakan segala keperluan rumah tangga. Kalau tak ada semua itu, tentu tak ada dunia modern. Bukankah itu artinya tanpa alam kita tak bisa apa-apa? Kita hanya bisa meminjam tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Bukankah lama-kelamaan kita hanya menjadi parasit?
Yup, alam telah menunjukkan perasaannya. Zaman sebelum nenek kita lahir, alam selalu menyambut manusia dengan hari yang cerah tiap pagi, sunset yang begitu menawan, dan bintang-bintang bertaburan tiap malam. Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang, pagi-pagi panas menyengat, tidak jelas kapan hujan turun dan kapan terik muncul, bahkan tak terlihat satu bintang mengisi langit malam. Dan pikiran kita masih belum tergugah juga. Yang bisa kita lakukan hanya mengeluh saja.
Alam mulai marah, terbakar akan isi otak kita yang kosong dan hanya berisi uang dan kapan kiamat datang. Tak bisakah kita melakukan hal kecil yang bisa menyelamatkannya perlahan-lahan dari kematian? Jangan hanya bisa bicara saja. Kenapa kita tidak membawa bekal dari rumah? Bisakah menyewa film atau membeli buku tanpa kantong plastik bila hanya berisi satu atau beberapa buku? Kita kan punya tas yang bagus-bagus, kenapa repot-repot memakai plastik yang buruk rupa dan baunya tidak enak? Kalau beli bakso, bawalah rantang atau kotak makan sendiri yang lebih awet. Kan lebih sehat daripada memakai plastik. Karena di makanan panas, racun pada plastik bisa masuk ke makanan.
Tidak perlu merasa susah memperbaiki alam. Mulailah dengan hal kecil, yaitu merubah pandangan kita akan pentingnya alam untuk dijaga. 

NB: idenya rada mentok. bahasanya ancur deh :P