Senin, 05 Maret 2012

Gemetar

Let's Get Lost by Hengki Koentjoro
Tidakkah kau mulai gemetar?
melihat hidupmu tak terkontrol berputar
menyapu dunia hingga hilang latar
Mungkin kau tak gentar
tapi kau tak punya waktu bahkan sebentar

Tidakkah kau mulai gusar?
melihat dirimu yang bukan makin berpendar,
tetapi makin memudar
hingga gelap yang menutupi kian membesar

Tidakkah takutmu makin jelas terpancar?
saat ingat dirimu tak mungkin lagi keluar
bahkan sekuat apapun teriakanmu berkoar,
sekitar tak ada yang mendengar.

Dan di sana tak akan kaulihat sinar,
seberapapun kau membuka matamu lebar
karena semua gelap sudah rata tersebar
dan segenap nyawamu sudah penuh belukar,
kegelapan yang mengakar

: yang merenggut seutuhnya dirimu, tak berkisar,
pun tak berdasar.

Rabu, 16 November 2011

Eksekusi

Purnama pergi pagi pecah
Bintang bubar burung bebas
Memori bungkam mata bias
Kepala tunduk kaki tekuk

Kemudian mati.

Senin, 26 September 2011

Mata

photo by The Whistleblower
Apalah yang bisa dilihat oleh matamu,
disamping terang dan gelap dunia.

Apalah yang tiada bisa tampak di matamu,
selain bising dan sunyi dunia.

Apalah yang bisa diraih matamu,
disamping kejayaan dan kejatuhan dunia.

Apalah yang tiada bisa direngkuh matamu,
selain perdamaian dan kehancuran dunia.

Apalah yang bisa diubah matamu,
disamping kegembiraan dan kejam dunia.

Apalah lagi yang tiada bisa diperbaiki matamu,
selain tawa dan tangis dunia?

: Biarkan matamu itu bicara,
dan ijinkan aku untuk mendengar setiap inci huruf-hurufnya.
Lalu akan kubawa matamu pergi,
untuk melihat
merasa
mendengar
mencecap
meraba
dan mengubah segalanya.

Selasa, 13 September 2011

Setengah Sadar (?)

Caring Hands by Martien Van Asseldonk
Yang sobek, hancur, dan terburai di atas api.
Yang terlanjur bahagia, karena sudah melekat dalam rengkuh ego.
Atau yang melayang-layang, terbang tak tentu, berserah ke mana angin akan membawamu pergi.

Yang terpaku, menjadi patung.
Yang terbakar terlalu panas hingga meleleh di tempat.
Atau yang terpanggil oleh Alam untuk tetap membopong masa depan.

Yang masih lelap bermimpi bersama cintanya.
Yang baru saja tertepuk pundaknya, dan matanya baru membuka. Sedikit, mungkin.
Atau yang sudah berlari duluan, meninggalkan yang lain.

Yang manakah dirimu?

Kita butuh
tanggung jawab, konsekuensi, prioritas, kepastian,
dan konklusi. Kesimpulan.

Dan sekali lagi aku bertanya padamu,
menunjuk di depan keningmu yang panas terbakar
bersamaan dengan tajam kilat pupilmu
dan segenap kekuatan yang bertumpu pada kepalan tanganmu.

YANG MANAKAH DIRIMU?

Tentang Padmanaba 69


Adaptasi itu bukan berarti kita ikut menjadi gelap ketika sekitar kita mulai gelap. Sudah tugas kita untuk menjadi cahaya di situ, yang menerangkan gelap, membagi energi, membawa keceriaan, membakar semangat, dan mengajak untuk bersama-sama berlari menuju harapan, hingga semua mendapatkan percik sinarnya.


KITA PASTI BISA SURVIVE, TEMAN-TEMAN!

Kamis, 07 Juli 2011

Kertasnya Jangan Dibuang!

Taun ajaran baru >> buku" tulis baru.
Buang kertas" soal dan hasil" ulangan dan pengumuman" dari sekolah.


Tapi tahukah apa yang ente-ente bisa buat dari kertas" bekas itu?
BUKU TULIS! #oyeah


Seperti yang kita ketahui, tiap lembar kertas terdiri dari 2 halaman. Jadi, tiap lembar kertas yang cuma kepake satu halaman bisa kita potong jadi dua bagian (biar ukurannya segede buku tulis), trus kita kumpulin semuanya.


Kalo aku sih dapetnya sampe 1 rim lebih. (Oh, betapa boros kertasnya kita ini.)
Kita bagi tumpukan kertas itu menjadi beberapa bagian. Aku yakin mesti pada dapet beratus" lembar juga. Dibagi jadi 3, 4, atau 5 buku berbeda, sesuka hati aja. 


Pasti bakal ada masalah ukuran, misalnya ukuran Kwarto beda sama yang Folio, tenang aja, yang penting kita kumpulin dulu semuanya, terus bersepedalah ke kios fotokopi terdekat. Minta mas" tukang fotokopi buat ngeratain ukuran kumpulan kertas" itu. 


kalo udah, kita bikin kavernya. mau pake poster, pake koran didobel-dobel, pake kaver majalah yang udah sobek juga bisa. Usahain yang bekas. Jumlah kaver ya tergantung jumlah buku yang kita bikin. Kalo 3 buku, ya kavernya 6 lembar, dst dst.


Kita sesuaikan ukuran kaver dengan ukuran kertas yang sudah dipotong. Usahain kavernya jangan tipis-tipis, ntar jadi rawan sobek, trus susah dijilid.


Bawa ke penjilidan. minta dijilid spiral sama mas-mas tukang jilid.


Lalu jadi deh. Gitu doang.


Ini nih buku tulis versiku :





Jadi kita nggak perlu beli terlalu banyak buku tulis, yang otomatis menurunkan kurva permintaan, sehingga perusahaan kertas perusak lingkungan macem APP bisa mengurangi jumlah produksinya dan menyelamatkan beberapa batang pohon (seenggaknya).
Inget, tiap satu tindakan kecil yang kita perbuat, bakal ada dampaknya di masa depan, biarpun cuma nol koma sekian persen, kita tetep bisa nyelametin bumi!

Rabu, 22 Juni 2011

Dimana Kita?


Di mana kita kini?
Kita berdiri, di sini
kaki tertapak di dalam kelas ini
dengan mata sayu melirik-lirik mencari kursi.

dengan warna-warni ekspresi lucu kita.

Di mana kita kini ?
Kita berdiri, di sini
kaki tertapak di tahun yang panjang ini
tahun terbaik ini.

dengan bahagia yang menderu-deru dari dalam kita.

Di mana kita kini?
Kita berdiri, di sini
kaki tertapak di ujung tombak tajam ini
tombak yang terus mendorong kita ke ujung ini.

dengan pilihan untuk dijatuhkan, atau dilontarkan ke atas,
atau hanya menggantung di ujung tombak hingga darah tercucur?

Di mana kita kini ?
Kita berdiri, di sini
kaki tertapak di tanah lapang ini
di sekolah kita ini.

dengan warna-warni kebaya cantik kita.

Di mana kita kini ?
Kita berdiri, di sini
kaki tertapak di persimpangan ini
yang menunjuk dua arah ini.

dengan kepala terangkat dan kaki kita yang siap berlari.